| Nama Proyek | : | Rumah Wayang Kamasan |
| Sektor | : | Perdagangan & Jasa |
| Lokasi | : | Desa Kamasan |
| Kecamatan | : | Klungkung |
| Desa | : | Kamasan |
Sejak abad ke 16 seni lukis Wayang gaya Kamasan mengalami masa keemasan di bawah perintah raja Gelgel yaitu Raja Dalem Waturenggong, dan berkembang hingga saat ini secara turun temurun. Selama berabad-abad, seni lukis tradisi Kamasan ini dipraktekkan oleh kelompok keturunan Sangging, yang berdampak desa Kamasan menjadi tempatnya para seniman seni rupa klasik berkumpul. Seni rupa klasik merupakan puncak dari seni rupa Bali yang telah menanggalkan pengaruh seni rupa Hindu di Jawa Timur.
Memasuki abad ke 19 penerus tradisi semakin berkurang, diakibatkan karena tidak ada penerus ahli waris laki-laki (purusa), oleh seniman Modara seni rupa tradisi ini dikembangkan di luar desa Kamasan. Kesadaran tradisi Kamasan tetap kokoh karena faktor dukungan kuat dari patron atau pelindung senimannya yaitu raja Bali. Para sangging mendapat hadiah sawah dari para bangsawan atas pengabdian mereka terhadap istana dan Pura. Masa keemasan seni lukis wayang ikut memudar sejak hancurnya Puri Semarapura akibat serangan tentara Belanda, kompleks puri habis terbakar, raja dan keluarganya terbunuh saat perang Puputan di tahun 1908. Salah satu bukti masa keemasan seni lukis wayang yang masih tertinggal terdapat di dalam kompleks Puri Semarapura, yaitu Kerthagosa yang saat ini sebagai berfungsi sebagai
museum.
Investasi pada Wayang Kamasan menawarkan potensi keuntungan finansial yang sangat menjanjikan sekaligus berkelanjutan karena berakar pada pelestarian seni klasik Bali peninggalan era Kerajaan Gelgel abad ke-14 yang sangat langka. Nilai ekonomi dari lukisan tradisional ini terus mengalami apresiasi yang signifikan dari waktu ke waktu karena setiap karya dibuat secara manual menggunakan kuas bambu dan pewarna alami dari batu atau tulang yang menuntut ketelitian tinggi serta proses pembuatan yang memakan waktu berbulan-bulan. Kelangkaan suplai dan ketatnya pakem visual mitologi epik seperti Ramayana dan Mahabharata menjadikan karya asli para maestro Kamasan sebagai aset fine art berharga tinggi yang diburu oleh para kolektor seni, galeri, dan museum internasional dengan nilai jual yang menembus puluhan hingga ratusan juta rupiah.